* : Informasi di bawah dibuat untuk pengayaan informasi. Jika terjadi perbedaan metode penulisan antara naskah Fatwa format HTML di bawah dan naskah Fatwa format PDF maka yang berlaku adalah yang berformat PDF.

Fatwa

Salinan Fatwa (PDF) [ x ]

FATWA
DEWAN SYARI’AH NASIONAL
Nomor 84/DSN-MUI/XII/2012
Tentang
Metode Pengakuan Keuntungan Tamwil bi al-Murabahah (Pembiayaan Murabahah) di Lembaga Keuangan Syariah

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), setelah

Menimbang :
  1. bahwa dalam pengakuan keuntungan pembiayaan murabahah yang diaplikasikan oleh Lembaga Keuangan Syariah (LKS) dikenal antara lain dua metode, yaitu metode proporsional  dan metode anuitas;
  2. bahwa penerapan salah satu dari dua metode pengakuan keuntungan pembiayaan murabahah tersebut menimbulkan permasalahan bagi kalangan industri dan masyarakat, sehingga memerlukan kejelasan dari aspek syariah mengenai kedua metode pengakuan keuntungan pembiayaan murabahah tersebut;
  3. bahwa Lembaga Keuangan Syariah memerlukan metode pengakuan keuntungan pembiayaan murabahah yang dapat mendorong pertumbuhan Lembaga Keuangan Syariah yang sehat;
  4. bahwa atas dasar pertimbangan huruf a b, dan c, Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) memandang perlu untuk menetapkan fatwa tentang metode pengakuan keuntungan  pembiayaan murabahah di Lembaga Keuangan Syariah untuk dijadikan pedoman.
Mengingat :
  1. Firman Allah SWT, antara lain:
    1. QS. al-Nisa' [4]: 29:

      يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَتَأْكُلُوْا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ...

      "Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antaramu …"

    2. QS. al-Ma'idah [5]: 1:

      يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِ …

      "Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu ..."

    3. QS. al-Ma'idah [5]: 2:

      ... وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوْا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ.

      "… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya."

    4. d. QS. al-Baqarah [2]: 283:

      ... فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِى اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ، وَلْيَتَّقِ اللهَ رَبَّهُ ...

      "… Maka, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya …"

  2. Hadis-hadis Nabi SAW, antara lain:
    1. Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah dari 'Ubadah bin Shamit, riwayat Ahmad dari Ibnu 'Abbas, dan riwayat Imam Malik dari Yahya:

      أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى أَنْ لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ (أخرجه ابن ماجه عن عبادة بن الصامت في سننه, الكتاب: الأحكام، الباب: من بنى في حقه مايضر بجاره، رقم الحديث: 2331، ورواه أحمد عن ابن عباس، ومالك عن يحي)

      "Rasulullah s.a.w. menetapkan tidak boleh membahayakan/ merugikan orang lain dan tidak boleh (pula) membalas bahaya (kerugian yang ditimbulkan oleh orang lain) dengan bahaya (perbuatan yang merugikannya)." (HR. Ibnu Majah dari Ubadah bin Shamit dalam Kitab Sunan al-Tirmidzi, Kitab: Ahkam, bab man bana fi haqqihi ma yadhurru bi jarihi, No: 2331; HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan HR Malik dari Yahya)

    2. Hadis riwayat Imam Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Kitab Ahkam, bab: ma dzukira 'an Rasulillah, No: 1272:

      الصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ إِلاَّ صُلْحًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا وَالْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا .

      "Perdamaian boleh dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram."

    3. Hadis Mauquf Ibnu Mas'ud:

      مَا رَآهُ الْمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ .

      "Apa yang dipandang baik oleh umat Islam, baik pula di sisi Allah." (HR Ahmad, Musnad Ibn Hanbal, kitab: al-Muktsirin min al-Shabahah, bab: Musnad Abdullah Ibnu Mas'ud, No. 3418; Radd al-Muhtar 'ala Dur al-Mukhtar, Ibnu 'Abidin, Dar al-Kutub al-'Ilmiyah, hlm. 52)

  3. Kaidah fikih, antara lain:
    1.  

       

    2. الأَصْلُ فِي اْلأَشْيَاءِ اْلإِبَاحَةُ إِلاَّ أَنْ يَدُلَّ دَلِيْلٌ عَلَى التَّحْرِيْمِ .

      "Pada dasarnya, segala bentuk mu'amalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya." (al-Asybah wa al-Nazha'ir fi Qawa'id wa Furu' Fiqh al-Syafi'iyyah, Jalal al-Din Abd al-Rahman Ibnu Abi Bakr al-Suyuthi, Beirut: Dar al-Kitab al-'Arabi. 1987, hlm. 133)

    3. مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ .

      "Jika sebuah kewajiban tidak terlaksana kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu wajib pula hukumnya." (Irsyad al-Fuhul, Muhammad Ibn Ali Ibn Ahmad al-Syaukani, Beirut: Dar al-Fikr. 1992, juz 1, hlm. 411)

    4. تَصَرُّفُ اْلإِمَامِ عَلىَ الرَّعِيَّةِ مَنُوْطٌ بِالْمَصْلَحَةِ .

      "Keputusan/kebijakan/tindakan pemegang otoritas terhadap rakyat harus mempertimbangkan mashlahat." (al-Asybah wa al-Nazha'ir fi Qawa'id wa Furu' Fiqh al-Syafi'iyyah, Jalal al-Din Abd al-Rahman Ibnu Abi Bakr al-Suyuthi, Dar Saa, Kairo 2004, cet. II, Vol. I, hlm. 276)

    5. العَادَةُ مُحَكَّمَةٌ .

      "Adat (dapat) dijadikan pertimbangan dalam penetapan hukum." (Durar al-Hukkam fi Syarh Majallat al-Ahkam, Ali Haidar, Dar al-Jil, pasal 812, hlm. 351)

    6. االمَعْرُوْفُ عُرْفًا كَالْمَشْرُوْطِ شَرْطًا .

      "Sesuatu yang diketahui (berlaku) secara adat (berdasarkan kebiasaan) sama statusnya dengan sesuatu yang ditetapkan sebagai syarat." (Durar al-Hukkam fi Syarh Majallat al-Ahkam, Ali Haidar, Dar al-Jail, pasal 251, hlm. 233)

    7. االمَعْرُوْفُ بَيْنَ التُّجَّارِ كَالْمَشْرُوْطِ بَيْنَهُمْ .

      "Sesuatu yang diketahui (berlaku) secara adat (berdasarkan kebiasaan) di antara sesama pedagang sama statusnya dengan sesuatu yang ditetapkan sebagai syarat di antara mereka." (Syarh al-Qawa`id al-Fiqhiyyah, Ahmad Ibn al-Syaikh Muhammad al-Zarqa, Damaskus: Dar al-Qalam, 1989, hlm. 237; al-Qawa`id al-Fiqhiyyah: Mafhumuha, Nasy'atuha, Tathawwuruha, Dirasat Mu'allafatuha, Adillatuha, Muhimmatuha, Tathbiqatuha, Ali Ahmad al-Nadawi, Damaskus: Dar al-Qalam, 1994, hlm. 65; dan al-Wajiz fi Idhah al-Fiqh al-Kuliyyah, Muhammad Shidqi Ibn al-Burnu, Beirut: Mu'assasah al-Risalah, 1983, hlm. 79)

    8. الثَّابِتُ بِالْعُرْفِ كَالثَّابِتِ بِالنَّصِّ .

      "Sesuatu yang tetap (berlaku) berdasarkan kebiasaan sama statusnya dengan sesuatu yang ditetapkan dengan nash." (al-Qawa'id al-Fiqhiyyah al-Kubra wa Atsaruha fi al-Mu'amalat al-Maliyah, Umar Abdullah Kahil, Kairo: Universitas al-Azhar. t.th, hlm. 160)

    9. حُكْمُ الْحَاكِمِ فِيْ مَسَائِلِ الْاِجْتِهَادِ يَرْفَعُ الْخِلاَفَ .

      "Keputusan pemerintah (pemegang otoritas) dalam masalah ijtihad menghilangkan ikhtilaf." (al-Furuq, Syihab al-Din al-Qurafi, Beirut: 'Alam al-Kutub. t.th., juz II, hlm. 103)

    10. حُكْمُ الْحَاكِمِ رَفَعَ الْخِلاَفَ .

      "Keputusan pemerintah (pemegang otoritas) menghilangkan ikhtilaf." (I'anat al-Thalibin, Sayyid al-Bakri Muhammad Syatha al-Dimyathi, Beirut: Dar al-Fikr. t.th., juz III, hlm. 303; Hasiyah Ibn Abidin, Muhammad Amin, Beirut: Dar al-Fikr. 1386 H, juz III, hlm. 412; dan Hasiyah al-Dasuqi, Muhammad al-Dasuqi, Beirut: Dar al-Fikr. t.th., juz IV, hlm. 79, 147, dan 158)

Memperhatikan :
  1. Pendapat para ulama, antara lain:
    1. Dr. Wahbah al-Zuhaili:

      وَحُكْمُ الْعَقْدِ اْلأَصْلِيِّ يَتَحَقَّقُ آلِيًا بِتَقْدِيْرِ الشَّرْعِ بِمُجَرَّدِ انْعِقَادِ الْعَقْدِ صَحِيْحًا ... فَبِمُجَرَّدِ انْعِقَادِ الْبَيْعِ صَحِيْحًا تَنْتَقِلُ الْمِلْكِيَّةُ لِلْمُشْتَري، وَهكَذَا سَائِرُ أَحْكَامِ الْعُقُوْدِ.

      Akibat hukum utama akad (tujuan akad, ghayah) terjadi seketika --berdasarkan ketentuan syara'-- hanya dengan terjadinya akad yang sah (memenuhi rukun dan syarat-syaratnya) ... dengan terjadinya akad jual beli yang sah, beralihlah kepemilikan (barang) kepada pembeli; demikian pula akibat hukum akad lainnya (al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Wahbah al-Zuhaili, Beirut: Dar al-Fikr al-Mu'ashir. 2006. juz IV, hlm. 3084)

    2. Pendapat fuqaha dalam al-Mausu'atu al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah:

      يَمْلِكُ الْمُشْتَري الْمَبِيْعَ، وَيَمْلِكُ الْبَائِعُ الثَّمَنَ، وَيَكُوْنُ مِلْكُ الْمُشْتَرِيْ لِلْمَبِيْع بِمُجَرَّدِ عَقْدِ الْبَيْعِ الصَّحِيْحِ، وَلاَ يَتَوَقَّفُ عَلَى التَّقَابُضِ ...

      Dalam jual-beli, obyek (mabi') menjadi milik pembeli dan uang (tsaman) menjadi milik penjual; pembeli menjadi pemilik obyek (mabi') dengan terjadinya akad jual-beli yang sah, tanpa disyaratkan adanya penguasaan (qabdh) (al-Mausu'atu al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, Wizaratul Auqaf al-Kuwaitiyah, juz 9, hlm. 37)

  2. Keputusan AAOFI, dalam al-Ma'ayir al-Syar'iyyah:

    لاَ مَانِعَ أَنْ تَسْتَخْدِمَ الْمُؤَسَّسَةُ أَيَّ طَرِيْقَةٍ مَقْبُوْلَةٍ شَرْعًا مُتَعَارَفٍ عَلَيْهَا لِحِسَابِ الرِّبْحِ بِنَاءً عَلَى مُدَّةِ التَّمْوِيْلِ، مِثْلُ طَرِيْقَةِ الْحِسَابِ الَّتِيْ تَعْتَمِدُ عَلَى تَحْدِيْدِ الرِّبْحِ نِسْبَةً عَلَى كَامِلِ الْمَبْلَغِ سَنَوِيًّا لِكَامِلِ الْمُدَّةِ، أَوْ طَرِيْقَةِ الْحِسَابِ التَّنَازُلِيَّةِ حَيْثُ يُحْسَبُ الرِّبْحُ عَلَى الْمَبَالِغِ الْمُتَبَقِّيَةِ فِيْ ذِمَّةِ الْعَمِيْلِ بِحَسَبِ جَدْوَلِ اْلأَقْسَاطِ شَرِيْطَةَ أَنْ يَكُوْنَ ثَمَنُ الْبَيْعِ اْلإِجْمَالِيِّ مُبَيَّنًا بِالْمَبْلَغِ.

    Lembaga Keuangan Syariah tidak dilarang untuk menggunakan metode yang diterima (dibolehkan) oleh syariah dan 'urf dalam menghitung keuntungan (murabahah) sesuai jangka waktu pembiayaan, antara lain metode penghitungan keuntungan berdasarkan prosentase atas jumlah total harga/pembiayaan dalam satu tahun, selama jangka waktu pembiayaan (thariqah al-hisab allati ta'tamidu 'ala tahdid al-ribh nisbatan 'ala kamil al-mablagh sanawiyan li kamil al-muddah), atau metode penghitungan secara menurun (thariqah al-hisab al-tanazuliyah), yaitu penghitungan keuntungan berdasarkan sisa pembiayaan yang menjadi tanggungjawab nasabah sesuai dengan jadual angsuran. Dalam kedua metode tersebut, pada saat akad total harga jual harus disebutkan dalam bentuk nominal. (al-Ma'ayir al-Syar'iyah li al-Muraja'ah al-Islamiyah, Mi'yar No. 47, Hai'ah al-Muraja'ah wa al-Muhasabah al-Islamiyah, Bahrain, hlm. 63)

    يَتِمُّ إِثْبَاتُ أَرْبَاحِ الْبَيْعِ الْمُؤَجَّلِ الَّذِيْ يُدْفَعُ ثَمَنُهُ دَفْعَةً وَاحِدَةً تُسْتَحَقُّ بَعْدَ الْفَتْرَةِ الْمَالِيَةِ الْحَالِيَةِ أَوْ يُدْفَعُ ثَمَنُهُ عَلَى أَقْسَاطٍ تُدْفَعُ عَلَى فَتَرَاتٍ مَالِيَةٍ مُتَعَدِّدَةٍ لاَحِقَةٍ بِاسْتِخْدَامِ إِحْدَى طَرِيْقَتَيْنِ:

    1. إِثْبَاتُ اْلأَرْبَاحِ مُوَزَّعَةٌ عَلَى الْفَتَرَاتِ الْمَالِيَةِ الْمُسْتَقْبَلِيَّةِ لِفَتْرَةِ الْأَجَلِ بِحَيْثُ يُخَصَّصُ لِكُلِّ فَتْرَةٍ مَالِيَةٍ نَصِيْبُهَا مِنَ اْلأَرْبَاحِ بِغَضِّ النَّظَرِ عَمَّا إِذَا تَمَّ التَّسْلِيْمُ نَقْدًا أَوْ لاَ، وَهذِهِ الطَّرِيْقَةُ هِيَ الْمُفَضَّلَةُ.
    2. إِثْبَاتُ اَلأَرْبَاحِ عِنْدَ تَسَلُّمِ اْلأَقْسَاطِ – كُلٌّ فِيْ حِيْنِهِ - إِذَا رَأَتْ ذَلِكَ هَيْئَةُ الرِّقَابَةُ الشَّرْعِيَّةُ لِلْمَصْرِفِ أَوْ كَانَتْ السُّلْطَاتُ الْإِشْرَافِيَّةُ تُلْزِمُ بِذَلِكَ.

    "Pengakuan keuntungan jual-beli tangguh yang harganya dibayar sekaligus setelah periode buku berjalan atau dibayar secara angsuran dalam beberapa periode buku berikutnya, dilakukan dengan salah satu dari dua metode berikut:

    1. Pengakuan keuntungan disebar ke dalam beberapa periode buku yang akan datang sampai dengan jatuh tempo; dalam arti untuk setiap periode buku ada bagian keuntungan yang ditentukan, baik pembayaran harga tersebut diterima atau tidak. Inilah metode yang lebih disukai;
    2. Pengakuan keuntungan dilakukan ketika setiap angsuran bayaran harga diterima, apabila dewan pengawas syariah LKS/bank membolehkannya atau apabila otoritas pengawas mengharuskan demikian.
    3. (Ma'ayir al-Muhasabah wa al-Muraja'ah wa al-Dhwabith li al-Mu'assasat al-Maliyah al-Islamiyah, Mi'yar no 2, AAOIFI Bahrain, 2004, hlm. 142).
  3. Pendapat Dr. 'Isham Abdul Hadi Abu Nashr:

    أَنَّهُ فِيْ ظِلِّ وُجُودِ أُسْلُوْبٍ يَضْمَنُ لِلْبَائِعِ تَحْصِيْلَ كُلْفَةِ الْأَقْسَاطِ الْمُتَبَقِّيَةِ فِيْ مَوَاعِيْدِ اسْتِحْقَاقِهَا عَنْ طَرِيْقِ تَوْثِيْقِ دَيْنِهِ بِرَهْنِ السِّلْعَةِ الْمُبَاعَةِ أَوْ غَيْرِهَا وَاسْتِيْفَاءِ الْأَقْسَاطِ مِنْ ثَمَنِ بَيْعِ الْمَرْهُوْنِ فِيْ حَالَةِ تَوَقُّفِ الَّراهِنِ (الْمُشْتَرِيْ بِالتَّقْسِيْطِ) عَنِ السَّدَادِ فَإِنَّهُ لَا يُوْجَدُ مَسَوِّغٌ لِتَأْجِيْلِ الْاِعْتِرَافِ بِالرِّبْحِ لِحِيْنِ تَحْصِيْلِ أَوِ اسْتِحْقَاقِ الْقِسْطِ.

    "(Dalam murabahah tangguh atau cicilan) ketika ada skema yang memberikan jaminan kepada penjual bahwa penagihan angsuran yang masih tersisa akan berhasil tepat waktu, karena ada jaminan (rahn) berupa barang yang menjadi obyek jual atau lainnya, dan angsuran bisa diambil/dipenuhi dari harga penjualan marhun pada saat terjadi kemacetan pembayaran dari pembeli, maka tidak ada alasan untuk menunda pengakuan keuntungan murabahah sampai dengan angsuran tertagih atau telah jatuh tempo."
    (al-Mu'alajah al-Muhasabiyah li 'Amaliyat al-Bai' bi al-Taqsith, Muhasaba fi Dhai ah kam al-Fiqh al-Islami, hal 9, hal 11)

  4. Substansi Fatwa DSN-MUI No. 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang Murabahah;
  5. Surat Dewan Standard Akuntansi Syariah Nomor 0700/DSAS-IAI/2012, tanggal 10 Oktober 2012;        
  6. Surat Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia Nomor 234/APPI/WKU-ESI/XI/12, tanggal 22 November 2012;
  7. Surat Asosiasi bank Syariah Indonesia Nomor 21/042-2/2012, tanggal 23 November 2012;
  8. Rekomendasi Ijtima’ Sanawi (Annual Meeting) Dewan Pengawas Syariah VIII, Tahun 2012 tanggal 2-5 Desember 2012;
  9. Pendapat peserta Rapat Pleno DSN-MUI pada hari Jumat, tanggal 07 Shafar 1433/21 Desember 2012.

MEMUTUSKAN

Menetapkan : METODE PENGAKUAN KEUNTUNGAN TAMWIL BI AL-MURABAHAH (PEMBIAYAAN MURABAHAH) DI LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH
Pertama : Ketentuan Umum
Dalam fatwa ini yang dimaksud dengan:
  1. Metode Proporsional (Thariqah Mubasyirah)adalah pengakuan keuntungan yang dilakukan secara proporsional atas jumlah piutang (harga jual, tsaman) yang berhasil ditagih dengan mengalikan persentase keuntungan terhadap jumlah piutang yang berhasil ditagih (al-atsman al-muhashshalah);
  2. Metode Anuitas (Thariqah al-Hisab al-Tanazuliyyah/Thariqah al-Tanaqushiyyah) adalah pengakuan keuntungan yang dilakukan secara proporsional atas jumlah sisa harga pokok yang belum ditagih dengan mengalikan persentase keuntungan terhadap jumlah sisa harga pokok yang belum ditagih (al-atsman al-mutabaqqiyah);  
  3. Murabahah adalah akad jual-beli dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai keuntungan;
  4. At-Tamwil bi al-Murabahah (Pembiayaan Murabahah) adalah murabahah di Lembaga Keuangan Syariah  (LKS) dengan cara LKS membelikan barang sesuai dengan pesanan nasabah, kemudian LKS menjualnya kepada nasabah --setelah barang menjadi milik LKS-- dengan pembayaran secara angsuran;
  5. Harga Jual (tsaman) adalah harga pokok ditambah keuntungan;
  6. Al-Mashlahah (ashlah)adalah suatu keadaan yang dianggap  paling banyak mendatangkan manfaat bagi pertumbuhan Lembaga Keuangan Syariah yang sehat.
Kedua : Ketentuan Hukum
Metode pengakuan keuntungan Murabahah dan Pembiayaan Murabahah boleh dilakukan secara proporsional dan secara anuitas dengan mengikuti ketentuan-ketentuan dalam fatwa ini.
Ketiga : Ketentuan Khusus
  1. Pengakuan keuntungan murabahah dalam bisnis yang dilakukan oleh para pedagang (al-tujjar), yaitu secara proporsional boleh dilakukan selama sesuai dengan ‘urf (kebiasaan) yang berlaku  di kalangan para pedagang;
  2. Pengakuan keuntungan   al-Tamwil bi al-Murabahah  dalam bisnis yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah (LKS) boleh dilakukan secara Proporsional dan secara Anuitas selama sesuai dengan ‘urf (kebiasaan) yang berlaku di kalangan LKS;
  3. Pemilihan metode pengakuan keuntungan al-Tamwil bi al- Murabahah pada LKS harus memperhatikan mashlahah LKS bagi pertumbuhan LKS yang sehat;
  4. Metode pengakuan keuntungan at-Tamwil bi al-Murabahah yang ashlah dalam masa pertumbuhan LKS adalah metode Anuitas;
  5. Dalam hal LKS menggunakan metode pengakuan keuntungan at-Tamwil bi al-Murabahah secara anuitas, porsi keuntungan harus ada selama jangka waktu angsuran; keuntungan at-tamwil bi al-murabahah (pembiayaan murabahah) tidak boleh diakui seluruhnya sebelum pengembalian piutang pembiayaan murabahah berakhir/lunas dibayar.
Keempat : Penutup
Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Jakarta
Tanggal : 07 Shafar 1433 H

21 Desember 2012 M

DEWAN SYARI'AH NASIONAL
MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua
K.H. MA Sahal Mahfudh
Sekretaris
Drs. H. M Ichwan Sam

Kutipan Harian

Penyangkalan

Seluruh data di situs ini adalah milik DSN MUI, kecuali dinyatakan sebaliknya dengan cara menyebutkan sumbernya. Anda diizinkan mengutip isi situs ini dengan tetap menyertakan sumbernya (dari situs kami) untuk menjaga tradisi dan tanggungjawab keilmuan.

free site statistics

Peta Kantor

Lihat kantor Dewan Syariah Nasional dalam peta besar.