* : Informasi di bawah dibuat untuk pengayaan informasi. Jika terjadi perbedaan metode penulisan antara naskah Fatwa format HTML di bawah dan naskah Fatwa format PDF maka yang berlaku adalah yang berformat PDF.

Fatwa

Salinan Fatwa (PDF) [ x ]

FATWA
DEWAN SYARI’AH NASIONAL
Nomor 103/DSN-MUI/X/2016
Tentang
Novasi Subjektif Berdasarkan Prinsip Syariah

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), setelah

Menimbang :
  1. bahwa masyarakat dan Lembaga Keuangan Syariah (LKS) memerlukan penjelasan tentang Novasi Subjektif dari segi prinsip syariah;
  2. bahwa ketentuan hukum mengenai Novasi Subjektif berdasarkan prinsip syariah belum diatur dalam fatwa DSN-MUI;
  3. bahwa atas dasar pertimbangan huruf a dan b, DSN-MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang Novasi Subjektif berdasarkan prinsip syariah untuk dijadikan pedoman.
Mengingat :
  1. Firman Allah SWT:
    1. QS. al-Ma`idah (5): 1:

      يٰأَيُّهَا الَّذينَ ءامَنوا أَوفوا بِالعُقودِ ...

      "Hai orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu ..."

    2. QS. al-Baqarah (2): 282:

      يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُواْ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلاَ يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِيْ عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللّهَ رَبَّهُ وَلاَ يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا ...

      "Hai orang yang beriman! Apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya ..."

  2. Hadis Nabi SAW:
    1. Hadis Nabi riwayat Imam al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

      مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ، فَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِيْءٍ فَلْيَتْبَعْ.

      "Menunda-nunda pembayaran utang yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman. Maka, jika seseorang di antara kamu dialihkan hak penagihan piutangnya (dihawalahkan) kepada pihak yang mampu, terimalah" (HR. Bukhari).

    2. Hadis Nabi riwayat Al-Tirmidzi:

      عَنْ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ الْمُزَنِيِّ رضي الله تعالى عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : الصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ إلَّا صُلْحًا حَرَّمَ حَلَالًا أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا. وَالْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ، إلَّا شَرْطًا حَرَّمَ حَلَالًا، أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا. رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ.

      "Dari ‘Amr bin ‘Auf al-Muzani, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Sulh (penyelesaian sengketa melalui musyawarah untuk mufakat) dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali sulh yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram." (H.R. Al-Tirmidzi dan beliau menilainya shahih)

    3. Hadis Nabi riwayat Muslim:

      عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ. رواه مسلم.

      "Dari ‘Ubadah bin al-Shamit RA. Dia berkata, Rasulullah SAW bersabda: (Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya'ir dengan sya'ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (dengan syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai." (H.R. Muslim)

    4. Hadis Nabi riwayat Abu Dawud:

      عَنْ ابْنِ عُمَرَ ، قَالَ: كُنْتُ أَبِيعُ الْإِبِلَ بِالْبَقِيعِ فَأَبِيعُ بِالدَّنَانِيرِ، وَآخُذُ الدَّرَاهِمَ وَأَبِيعُ بِالدَّرَاهِمِ وَآخُذُ الدَّنَانِيرَ، آخُذُ هَذِهِ مِنْ هَذِهِ وَأُعْطِي هَذِهِ مِنْ هَذِهِ فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ فِي بَيْتِ حَفْصَةَ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، رُوَيْدَكَ أَسْأَلُكَ إِنِّي أَبِيعُ الْإِبِلَ بِالْبَقِيعِ فَأَبِيعُ بِالدَّنَانِيرِ وَآخُذُ الدَّرَاهِمَ ، وَأَبِيعُ بِالدَّرَاهِمِ وَآخُذُ الدَّنَانِيرَ ، آخُذُ هَذِهِ مِنْ هَذِهِ وَأُعْطِي هَذِهِ مِنْ هَذِهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا بَأْسَ أَنْ تَأْخُذَهَا بِسِعْرِ يَوْمِهَا مَا لَمْ تَفْتَرِقَا وَبَيْنَكُمَا شَيْءٌ» (رواه أبو داود)

      "Dari Ibn Umar RA, dulu aku menjual unta di Baqi’. Aku menjualnya dengan dinar dan menerima pembayarannya dengan dirham. Aku (juga) menjualnya dengan dirham dan menerima (pembayarannya) dengan dinar. Aku mengambil ini untuk itu, dan memberi itu untuk ini (maksudnya: dinar dan dirham). Lalu aku mendatangi Rasulullah SAW. Saat itu beliau sedang di rumah Hafshah.
      Aku bertanya, "Wahai Rasulullah. Sebentar, aku ingin bertanya kepadamu, aku menjual unta di Baqi’. Aku menjualnya dengan dinar dan menerima (pembayarannya) dengan dirham. Aku (juga) menjualnya dengan dinar dan menerima (pembayarannya) dengan dinar. Aku mengambil ini untuk itu, dan memberi itu untuk ini."
      Rasulullah SAW menjawab, "Tidak ada masalah jika kamu menerimanya dengan harga di hari itu dan kalian berdua tidak berpisah sementara masih ada sesuatu (yang belum dibayar)." (H.R. Abu Dawud)

  3. Ijma’ ulama tentang larangan bai’ al-dain bi al-dain:

    وَأَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّ بَيْعَ الدَّيْنِ بِالدَّيْنِ لَا يَجُوْزُ

    "Para ulama telah konsensus bahwa bai’ ad-dain bi ad-dain itu tidak dibolehkan."

  4. Kaidah fikih:

    الأَصْلُ فِي الْمُعَامَلَاتِ الإِبَاحَةُ إِلاَّ أَنْ يَّدُلَّ دَلِيلٌ عَلَى تَحْرِيمِهَا .

    "Pada dasarnya, segala bentuk muamalat itu boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya."

Memperhatikan :
  1. Pendapat Jumhur ulama yang ditranmisikan (nuqil) dari Ibn Umar, Hasan Bashri, Thawus, Zuhri, dan Qatadah, tentang bolehnya penjualan piutang kepada pihak yang berutang (Madin);
  2. Pendapat ulama Zhahiriah yang ditranmisikan (nuqil) dari Ibn Abbas dan Ibn Syubrumah tentang dilarangnya penjualan piutang kepada pihak yang berutang (Madin);
  3. Fatwa kontemporer tentang hawalah yang menegaskan bahwa pengalihan utang pembiayaan dengan akad hawalah bil ujrah dibolehkan. Di antaranya:

    اطَّلَعَتِ الْهَيْئَةُ عَلىَ اسْتِفْسَارِ الشَّرِكَةِ الإِسْلَامِيَّةِ لِلتَّأْمِيْنِ بِشَأْنِ مَشْرُوْعِيَّةِ نَقْلِ الْمُرَابَحَةِ مِنْ عَمِيْلٍ إِلَى آخَر بِرَصِيْدِهَا الْمُتَبَقِّى، وَرَأَتِ الْهَيْئَةُ أَنْ ذَلِكَ مِنْ قَبِيْلِ حِوَالَةِ الدَّيْنِ وَلَا تُسَمَّى نَقْلًا لِلْمُرَابَحَةِ لِأَنَّ الْمُرَابَحَةَ تَمَّتْ بَيْنَ الشِّرْكَةِ وَالْعَمِيْلِ الْأَوَّلِ وَانْتَهَتْ، وَلَا يُمْكِنُ نَقلُ الْعَقْدِ، وَإِنَّمَا يُمْكِنُ نَقْلُ الْإِلْتِزَامِ النَّاشِئِ عَنِ الْمُرَابَحَةِ بِوَاسِطَةِ عَقْدِ الْحِوَالَةِ.

    "Dewan pengawas syariah telah menelaah pertanyaan yang diajukan oleh perusahaan asuransi syariah tentang hukum mengalihkan akad murabahah dari satu nasabah ke pihak lain dengan sisa cicilannya. Menurut Dewan pengawas syariah, pengalihan tersebut termasuk hawalah dan bukan termasuk pengalihan murabahah, karena akad murabahah antara perusahaan dengan nasabah yang pertama sudah berakhir, dan akadnya tidak bisa dialihkan, tetapi yang mungkin adalah mengalihkan kewajiban (iltizam) yang ditimbulkan akad murabahah dengan akad hawalah."

    (DR 'Izzudin Muhammad Khaujah, editor: Dr. Abdu Sattar Abu Gudah, al-Dalil al-Syar'i li al-Murabahah, Majmu'ah Dallah aI-Barakah al-Amanah aI-'Ammah- Ii al-Haiah aI-Syar'iyah aIMuwahhadah, Cet. 1, tahun 1998, hal. 18).

  4. Fatwa-fatwa kontemporer:
    1. Keputusan Lembaga Fikih Islam OKI

      لَا يَجُوْزُ بَيْعُ الدَّيْنِ الْمُؤَجَّلِ مِنْ غَيْرِ الْمَدِيْنِ بِنَقْدٍ مُعَجَّلٍ مِنْ جِنْسِهِ أَوْ مِنْ غَيْرِ جِنْسِهِ لِإْفَضَائِهِ إِلَى الرِّبَا، كَمَا لَا يَجُوْزُ بَيْعُهُ بِنَقْدٍ مُؤَجَّلٍ مِنْ جِنْسِهِ أَوْ مِنْ غَيْرِ جِنْسِهِ لِأَنَّهُ مِنْ بَيْعِ الْكَالِئِ بِالْكَالِئِ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ شَرْعًا، وَلَا فَرْقَ فِيْ ذَلِكَ بَيْنَ كَوْنِ الدَّيْنِ نَاشِئًا عَنْ قَرْضٍ أَوْ بَيْعٍ آجِلٍ.

      "Tidak boleh menjual piutang yang belum jatuh tempo kepada selain debitur dengan uang yang dibayar tunai, baik mata uang sejenis atau berbeda jenis, karena menyebabkan terjadinya riba. Begitu pula tidak boleh menjual piutang dengan uang yang dibayar tidak tunai, baik dengan mata uang sejenis atau berbeda jenis, karena termasuk bai’ al-kali` bi al-kali` yang diharamkan menurut syariah. Larangan tersebut berlaku pada piutang yang timbul dari akad qardh atau jual beli tangguh (tidak tunai)."

      (Keputusan Lembaga Fikih Islam OKI no. 101 [11/4] tentang bai al-dain)

    2. Keputusan Nadwah al-Baraka :

      وَمِنَ الصُّوَرِ الْمَمْنُوْعَةِ عِنْدَ جُمْهُوْرِ الْفُقَهَاءِ وَمِنْهُمُ الشَّافِعِيَّةُ بَيْعُ الدَّيْنِ لِغَيْرِ الْمَدِيْنِ بِنَقْدٍ يَدْفَعُهُ الْمُشْتَرِى أَقَلَّ مِنْ قِيْمَةِ الدَّيْنِ لِأَنَّ ذَلِكَ مِنْ الرِّبَا لِوُقُوْعِ الْمُبَادَلَةِ بَيْنَ النَّقْدَيْنِ من جِنْسٍ وَاحِدٍ دُوْنَ مُرَاعَاةِ التَّمَاثُلِ وَالتَّقَابُضِ وَلَا فَرْقَ فِيْ هَذِهِ الصُّوْرَةِ الْمَمْنُوْعَةِ بَيْنَ أَنْ تَكُوْنَ الْمَدْيُوْنِيَّةُ نَاشِئَةً عَنْ قَرْضٍ أَوْ بَيْعٍ آجِلٍ.

      "Di antara bentuk-bentuk (transaksi, pen.) yang dilarang adalah menjual piutang kepada selain debitur dengan harga (pembayaran) berupa uang yang dibayar tunai dan lebih kecil dari pokok utang. Transaksi ini merupakan salah satu bentuk riba karena terjadi pertukaran dua mata uang sejenis (transaksi sharf) yang tidak memenuhi unsur tamatsul (saling sama) dan taqabudh (saling tunai). Bentuk transaksi yang dilarang ini berlaku pada piutang yang ditimbulkan dari akad qardh ataupun jual beli tidak tunai."

      (Qararat wa Taushiyat Nadawat al-Barakah, Al-Amanah al-'Ammah li al-Hai`at al-Syar'iyah, Majmu'ah Dallah al-Barakah, Jeddah, cet. VII, Tahun 2006)

  5. Keputusan Lembaga Fikih Islam OKI:

    مِنْ صُوَرِ بَيْعِ الدَّيْنِ الْجَائِزَةِ : بَيْعُ الدَّيْنِ بِسِلْعَةٍ مُعَيَّنَةٍ.

    "Diantara bentuk-bentuk bai' al-dain yang dibolehkan adalah menjual piutang dengan komoditas tertentu.

    (Keputusan Lembaga Fikih Islam OKI no. 158 [17/7] tentang bai' al-dain)

  6. Fatwa-fatwa DSN-MUI yang terkait Pembaruan Utang
    1. Fatwa DSN-MUI Nomor: 12 /DSN-MUI/IV/2000 tentang Hawalah.
    2. Fatwa DSN-MUI  Nomor: 58/DSN-MUI/V/2007 tentang Hawalah bil Ujrah.
  7. Rekomendasi Ijtima' Sanawi (Annual Meeting) Dewan Pengawas Syariah  pada tanggal 16-18 Desember 2015 di Bandung;
  8. Keputusan Rapat Kerja DSN-MUI tanggal 11-13 Pebruari 2016 di Bogor;
  9. Pembahasan Working Group Perbankan Syariah (WGPS) tentang  Pembaruan Utang (Novasi/al-Tajdid fi al-Wafa) Berdasarkan Prinsip Syariah tanggal 23 Agustus 2015 di Jakarta;
  10. Pembahasan Working Group Perbankan Syariah (WGPS) tentang  Subrogasi Berdasarkan Prinsip Syariah tanggal 24 September 2016 di Yogyakarta;
  11. Pendapat peserta Rapat Pleno DSN-MUI pada hari Sabtu, tanggal 01 Oktober 2016 di Bogor;

MEMUTUSKAN

Menetapkan : FATWA TENTANG NOVASI SUBJEKTIF BERDASARKAN PRINSIP SYARIAH
Pertama : Ketentuan Umum
Dalam fatwa ini yang dimaksud dengan:
  1. Novasi adalah akad baru yang menggantikan dan menghapuskan akad yang lama.
  2. Novasi berdasarkan prinsip syariah adalah novasi yang dijalankan berdasarkan prinsip syariah.
  3. Novasi subjektif aktif adalah novasi terkait penggantian da`in.
  4. Novasi subjektif pasif adalah novasi terkait penggantian madin.
  5. Da`in adalah pihak yang memiliki hak tagih (piutang).
  6. Madin adalah pihak yang memiliki kewajiban untuk membayar utang.
  7. Akad hawalah adalah akad pengalihan utang (hawalat al-dain) dan piutang (hawalat al-haqq).
  8. Kompensasi ('Iwadh) adalah imbalan (prestasi) yang diterima para pihak (da`in lama dan dain baru) pada novasi yang disertai pertukaran prestasi, baik bersifat menguntungan atau tidak.
Kedua : Ketentuan Hukum

Pelaksanaan novasi subjektif berdasarkan prinsip syariah boleh dilakukan dan wajib mengikuti ketentuan yang terdapat dalam fatwa ini.

Ketiga : Ketentuan Akad
  1. Novasi subjektif aktif yang berupa penggantian da`in berlaku ketentuan hawalat al-haqq; dan
  2. Novasi subjektif pasif yang berupa penggantian madin berlaku ketentuan hawalat al-dain.
Keempat :
  1. Mekanisme Novasi Subjektif Aktif (Penggantian Da`in) Tanpa Kompensasi ('Iwadh)
    1. Da`in (LKS A) memiliki piutang kepada madin (nasabah). 
    2. Da`in (LKS A/da`in lama) mengajukan penawaran kepada pihak lain (calon da`in baru) untuk mengalihkan piutangnya; dan calon da`in baru menyetujuinya.
    3. LKS  A (muhil) dan  da`in baru (muhal lahu) melakukan akad Novasi pengalihan piutang.
    4. Da`in baru menerima pembayaran dari nasabah secara bertahap sesuai kesepakatan.
  2. Mekanisme Novasi Subjektif Aktif (Penggantian Da`in) dengan Kompensasi ('Iwadh)
    1. Da`in (LKS A) memiliki piutang kepada madin (nasabah). 
    2. Da`in (LKS A) mengajukan penawaran kepada pihak lain (calon da`in) untuk mengalihkan piutangnya; dan calon da`in menyetujuinya.
    3. LKS  A (muhil) dan  da`in baru (muhal lahu) melakukan akad pengalihan piutang uang dengan proses berikut:
      1. Da`in baru membeli barang dari pihak ketiga untuk membayar piutang uang kepada LKS A (dalam hal belum mempunyai barang);
      2. Da`in baru membayar/melunasi piutang dengan menyerahkan barang (sebagai tsaman [kompensasi]) kepada LKS A;
      3. Para pihak setuju dan sepakat untuk membebaskan da`in lama (LKS A) dari hak tagih atas piutangnya;  dan
    4. Da`in baru menerima pembayaran dari nasabah secara bertahap sesuai kesepakatan.
Kelima :
  1. Mekanisme Novasi Subjektif Pasif (Penggantian Madin) Tanpa Kompensasi ('Iwadh)
    1. Madin A mempunyai utang kepada LKS;
    2. Madin A mengajukan permohonan kepada pihak lain (calon madin)  untuk melanjutkan pembayaran utang kepada LKS; dan calon madin menyetujuinya;
    3. Calon madin dan madin A melakukan akad (perjanjian) novasi atas persetujuan LKS serta para pihak setuju dan sepakat untuk  membatalkan akad (perjanjian) sebelumnya;
    4. Madin baru dan LKS membuat akad (perjanjian) terkait kesanggupan dan kesediaan madin baru untuk membayar utang madin lama secara bertahap sesuai perjanjian; dan
    5. Madin baru membayar utang madin lama kepada LKS secara bertahap sesuai perjanjian.
  2. Mekanisme Novasi Subjektif Aktif (Penggantian Da`in) dengan Kompensasi ('Iwadh)
    1. Madin A mempunyai utang kepada LKS;
    2. Madin A (madin lama) mengajukan permohonan kepada pihak lain (calon madin baru)  untuk melanjutkan pembayaran utang kepada LKS; dan calon madin baru menyetujuinya;
    3. Calon madin baru dan madin A (madin lama) melakukan akad (perjanjian) jual-beli atas obyek murabahah (sebelumnya) atas persetujuan LKS serta para pihak setuju dan sepakat untuk  membatalkan akad (perjanjian) sebelumnya;
    4. Madin baru dan LKS membuat akad (perjanjian) terkait kesanggupan dan kesediaan madin baru untuk membayar utang madin lama secara bertahap sesuai perjanjian; dan
    5. Madin baru membayar utang madin lama kepada LKS secara bertahap sesuai perjanjian.
Keenam : Ketentuan Khusus
  1. Pihak-pihak yang melakukan novasi subjektif harus cakap hukum dan memiliki kewenangan; 
  2. Kehendak untuk mengadakan novasi subjektif harus dinyatakan secara tegas dan jelas oleh para pihak dalam akta perjanjian; 
  3. Dalam akta perjanjian novasi subyektif pasif harus dinyatakan secara tegas mengenai pembebasan madin lama dari utangnya;
  4. Dalam akta perjanjian novasi subjektif aktif harus dinyatakan secara tegas mengenai pembebasan da`in lama dari piutangnya;
  5. Bentuk novasi subjektif aktif (penggantian da`in) dengan kompensasi ('Iwadh) dalam hukum perdata Indonesia dikenal dengan Cessie;
  6. Dalam novasi subjektif pasif (penggantian madin) dengan obyek pembiayaan murabahah, pengalihan utang oleh madin lama kepada madin baru dilakukan atas dasar itikad baik para pihak;
  7. Mekanisme novasi subjektif pasif (penggantian madin) dapat dilakukan dengan menggunakan akad hawalah bil ujrah dengan berpedoman pada fatwa DSN-MUI Nomor 58/DSN-MUI/V/2007 tentang Hawalah bil Ujrah;
  8. Novasi subjektif hanya boleh dilakukan atas utang-piutang yang sah berdasarkan syariah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku; dan
  9. Ketentuan mengenai jaminan dan pengikatannya diatur sesuai dengan kesepakatan.
Ketujuh : Penutup
  1. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui lembaga penyelesaian sengketa berdasarkan syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
  2. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Jakarta
Tanggal : 29 Dzulhijjah 1436 H

01 Oktober 2016 M

DEWAN SYARI'AH NASIONAL
MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua
DR. KH. Ma'ruf Amin
Sekretaris
Dr. H. Anwar Abbas, M.M., M.Ag.

Kutipan Harian

Penyangkalan

Seluruh data di situs ini adalah milik DSN MUI, kecuali dinyatakan sebaliknya dengan cara menyebutkan sumbernya. Anda diizinkan mengutip isi situs ini dengan tetap menyertakan sumbernya (dari situs kami) untuk menjaga tradisi dan tanggungjawab keilmuan.

free site statistics

Peta Kantor

Lihat kantor Dewan Syariah Nasional dalam peta besar.